Gaul untuk kreatifitas dan pendidikan

Guru Gaul

PADA Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November lalu, banyak aksi demo yang dilakukan para guru, yang intinya sebagian besar adalah memperjuangkan kesejahteraan para guru. Tapi, ada sisi lain yang patut dicermati pula, yaitu hubungan antara guru dengan para anak didiknya.

Dulu, beberapa puluh tahun yang lalu, sosok seorang guru di mata anak didiknya merupakan sosok yang amat dihormati, disegani, bahkan ditakuti. Dalam bahasa Sunda, istilah guru kemudian diartikan sebagai seseorang yang patut “digugu” dan “ditiru”. Artinya, sosok guru adalah panutan, wajib dituruti dan sangat baik untuk ditiru perilakunya.

Tapi belakangan, banyak oknum guru yang mencoreng mukanya sendiri. Ada guru yang sering menggoda muridnya, bahkan ada yang memerkosa muridnya, ada guru yang korupsi, atau perilaku-perilaku lain yang tidak lagi patut untuk ditiru. Anak didik tidak lagi menempatkan guru sebagai seorang panutan. Hal ini banyak digambarkan dalam sinetron-sinetron kita. Bahkan digambarkan anak didik yang bertingkah kurang ajar terhadap gurunya, astaghfirullahaladziim.

Namun tampaknya, apa yang digambarkan dalam sinetron-sinetron itu terlalu kebablasan. Kalau kita lihat praktik belajar mengajar di kelas-kelas, khususnya di Kota Bandung, sebenarnya hubungan antara guru dan anak didiknya belum terlalu separah itu. Masih banyak murid yang menghormati gurunya, terutama di kalangan anak-anak sekolah dasar.

Memang rasa hormat yang diperlihatkan anak-anak sekarang berbeda dengan apa yang dilakukan anak-anak zaman dulu. Justru sosok guru sekarang di mata anak didiknya, bisa dijadikan sebagai seorang teman, seorang sahabat. Anak didik di sekolah dasar selalu mencium tangan gurunya bila berpapasan, ada pula beberapa anak yang melakukan toast tangan dengan gurunya.

Pendekatan yang dilakukan seorang guru terhadap anak didiknya pun sekarang ini agak berbeda. Kalau dulu guru memasang wajah garang bila tidak menyukai perbuatan muridnya, namun sekarang banyak guru yang justru menempatkan diri sebagai sahabat apabila muridnya melakukan kesalahan. Karena itu, anak didik pun banyak yang “curhat” kepada gurunya, terutama guru wanita. Tidak bisa “curhat” kepada orang tuanya di rumah, karena sibuk di luar rumah, maka akhirnya seorang anak “curhat” kepada gurunya.

Bahkan sekarang muncul istilah guru gaul, sehubungan banyaknya guru yang tidak lagi “menyeramkan”, baik penampilannya maupun perilakunya terhadap anak didik. Semoga saja perubahan seperti ini bisa memacu anak didik untuk lebih mengembangkan pribadinya, tentunya dengan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap “guru gaul”-nya itu.(milly malia/”PR”)***

Iklan

7 Replies to “Gaul untuk kreatifitas dan pendidikan”

  1. Hidup guru GAUL..
    hehehhe
    ustadz aja ada yang Gaul..
    padahaalll.. guru Gaul udah dari jaman Umar Bakriee..
    tapi.. Guru ya guru…
    walo gaul.. ya guru juga… yang penting peranan dan tanggung jawab nya kelar..
    ya ngak??
    hidup guru Gaull
    sekali lagi “Guru YESS..!!, say No to Guru “MONOTON””

  2. enggar.. thanks atas dukunganmu ANAK MUDA..
    salam kenal dari saya..
    harap dukungan dan kontribusinya juga.. untuk kemajuan pendidikan indonesia..
    hehehe..
    pendidikan harus di mulai dengan komunikasi yang mulus antara guru dan siswanya, nahh..!! kalo gurunya aja ngak ngerti dunia muda.. cem mana mo ngajar dan tahu apa yang dihadapi Muridnya..??
    untuk bisa “Tahu” kita harus tahu dulu kenapa orang lain “ngak TAHU ?”
    tull ngak..?!?
    harap saran dan kritiknya juga.. untuk kemajuan bersama..
    wassalam

  3. Ratusan wali murid SMP YIMI Gresik yang beralamat di jalan Letjen Suprapto 76 Gresik kemarin pada tanggal 6 September 2007 mengadakan sebuah pertemuan untuk menentang rencana pemecatan 49 orang guru oleh pimpinan Yayasan Malik Ibrahim yaitu Hasan Syahab. Pertemuan yang juga dihadiri oleh segenap wali murid siswa, serta komite sekolah dan juga disaksikan oleh wakil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dinas P dan K) Gresik serta Dewan Pendidikan Gresik (DPG) berlangsung sangat menegangkan. Dikarenakan alasan yang digunakan sebagai dasar pihak yayasan untuk memecat guru-guru tersebut sangat tidak masuk akal. Hal ini didasari oleh munculnya surat edaran tertanda tanggal 5 september 2007 yang berisikan pilihan kepada seluruh dewan guru antara memilih untuk terus bergabung dengan yayasan atau mengundurkan diri. syarat untuk terus bergabung dengan pihak yayasan Malik Ibrahim adalah mengikuti aturan yang telah ditetapkan diantaranya mendukung untuk tidak mengikuti ujian nasional. Jelas sekali hal ini ditolak oleh semua wali murid, karena apabila murid-murid SMP YIMI gresik tidak mengikuti UNAS maka darimana mereka akan mendapatkan ijasah yang sah dan legal dari pemerintah untuk melanjutkan ke pendidikan selanjutnya? bagaimanakah masa depan mereka itu nanti? inilah pertanyaan yang meresahkan hati para wali murid.

    ide untuk tidak mengikuti UNAS ini muncul dari direktur YIMI yaitu Munif Chatib dan jajaran konsultannya diantaranya Mardjuki dan Vita wardhana. setelah adanya konfirmasi langsung kepada Munif Chatib oleh seorang wali murid melalui telepon selular dinyatakan bahwa hal itu tidak jadi masalah karena dia sudah menyiapkan 400 orang guru cadangan untuk menggantikan mereka yang dipecat. Hal ini juga ditolak keras oleh wali murid yang berarti bahwa ada sebuah konspirasi antara pihak yayasan dan direktur. Pihak Yayasan Malik Ibrahim yang siang itu diwakili oleh Halim selaku sekretaris yayasan terus membantah semuanya, namun setelah didesak oleh wali murid akhirnya dia mau mengakui juga.

    Akhir dari pertemuan ini ditutup dengan sebuah kesepakatan yang berisi (1) Munif Chatib dinonaktifkan selaku direktur beserta jajaran konsultannya karena dianggap tidak kompeten untuk menangani bidang pendidikan, (2) Semua guru tetap dipertahankan, (3) Surat edaran tentang pemecatan guru dicabut (4) SMP YIMI tetap mengikuti UNAS sesuai dengan aturan pemerintah.

    Salah seorang wali murid yang juga seorang Kepala Sekolah SD dan pelatih program IAPBE menyatakan bahwa di YIMI telah terjadi pelecehan terhadap pendidikan, dimana semua aturan pendidikan dapat dirumuskan seenaknya oleh munif chatib selaku direktur tanpa memperhatikan peraturan pemerintah diantaranya lagi ialah menolak kurikulum KTSP, sering memberhentikan guru secara sepihak, menolak semua program pelatihan guna peningkatan SDM Guru dan karyawan sekolah dan mengancam akan memecat apabila guru tetap bersikeras mengikuti pelatihan tersebut hal ini pernah dibuktikan adanya ancaman pemecatan terhadap wakasek Nur Hadi, S.S karena mengikuti program kerjasama Indonesia dan Australia IAPBE. menolak konsep Manajemen berbasis sekolah dibuktikan dengan tidak diikutsertakannya seluruh lapisan guru dalam perancangan RAPBS.

    Hal ini tidak terjadi di SMP YIMI saja melainkan juga pada TK YIMI dan MI YIMI dimana 8 orang guru TK dan 28 Orang guru MI mendapatkan ancaman yang serupa dengan seluruh guru SMP YIMI Gresik. Apabila empat tuntutan tersebut tidak dipenuhi samapi batas waktu yang ditentukan yaitu hari jum’at tanggal 7 september 2007 pukul 13.30 maka semua wali murid akan membawa kasus ini ke meja hukum dan menarik semua siswanya berikut uang pendidikan yang selama ini dibayarkan menurut K.H Zakaria selaku ketua komite

  4. wahh kasihan ya yimi itu…..konflik melulu. mana yang benar gurunya yang tukang fitnah ato yayasan yang tukang pecat..he..he..he…dan saya ingetkan buat yang nulis ini apa ngga malu buka aib sendiri..ntar sekolahnya gak laku gara-gara berita kayak gini…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s