Kategorisasi Jalur Pendidikan, Hanya untuk Pemetaan

Pengklasifikasian sekolah/madrasah ke dalam kategori standar dan mandiri lebih diarahkan untuk kepentingan pemetaan. Langkah ini sekaligus sebagai upaya untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan penentuan prioritas pemerintah dalam mengalokasikan sumber daya yang dibutuhkan guna mencapai kualitas pendidikan sesuai standar nasional menjadi mandiri.

Demikian penjelasan resmi Departemen Pendidikan Nasional yang disampaikan oleh Suwarsih Madya selaku Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri dan Hubungan Masyarakat di Jakarta. Penjelasan tersebut merupakan tanggapan atas pemberitaan Kompas (25/5) bahwa kategorisasi jalur pendidikan jadi alat pemerintah untuk melepaskan tanggung jawab.

Berita tersebut bersumber dari pendapat Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Utomo Dananjaya. Utomo menilai, kategorisasi formal standar dan formal mandiri tidak realistis untuk meningkatkan mutu pendidikan karena sekolah mandiri hanya menyangkut segelintir orang dan sekolah-sekolah istimewa.

Tak terkait pembiayaan

Suwarsih menegaskan tidak benar bahwa pemerintah melepas tanggung jawab dalam pembangunan pendidikan nasional. Substansi Pasal 11 Ayat (2 dan 3) PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang menjadi dasar pengklasifikasian tersebut, disebutkan tidak terkait dengan pembiayaan pendidikan.

“Pemerintah membagi pendidikan dalam kategori mandiri dan standar bertujuan untuk mendorong satuan pendidikan yang hampir atau telah mencapai standar nasional agar lebih meningkatkan kualitas,” kata Suwarsih merujuk penjelasan Pasal 11 (Ayat 2 dan 3).

Apakah kemudian sekolah yang sudah mandiri tak lagi mendapatkan subsidi? Suwarsih menjawab, “Sekolah mandiri diberikan subsidi secara proporsional. Dengan demikian, dana yang tersedia bisa dialokasikan secara memadai ke sekolah standar.”

Di sisi lain, Suwarsih mengakui, agar bisa memberikan layanan pendidikan yang makin baik, sekolah mandiri dituntut kreativitasnya mencari dana. Orang yang berkelebihan didorong membiayai pendidikan. Hanya saja, beban orang miskin di sekolah bersangkutan jangan sampai makin berat.

“Di negara mana pun, untuk mendapatkan pelayanan publik di atas standar tidak mesti negara yang menanggung tambahan biayanya. Dalam konteks pendidikan, sekolah diberi kesempatan mencari sponsor, terlebih dalam era badan hukum pendidikan kelak,” paparnya.

Berdampak ke biaya

Unifah Rosyidi, dosen manajemen pendidikan Universitas Negeri Jakarta, berpendapat bahwa prinsip dan konsekuensi dari pengategorisasian jalur pendidikan tak akan bisa lepas dari pembiayaan, kendati itu dibungkus dengan istilah pemetaan. Tentang peluang sekolah mencari dana, Unifah mendesak pemerintah untuk mengonkretkan rambu-rambunya. Kenyataan menunjukkan, sekolah cenderung mencari dana dengan jalan pintas, yakni memungut biaya dari orangtua siswa secara pukul rata.

“Apa sekolah harus punya mal, toko, pabrik, atau sarana yang bisa dikomersialkan? Kalau ini tidak diperjelas, maka sekolah terkontaminasi kepentingan kapitalis. Anak orang miskin terpinggirkan secara psikologis,” paparnya.

Jika hal itu tak dipertegas, kata dia, maka sekolah tidak lagi sebagai perekat bangsa, tetapi menjadi perekat sosial kalangan tertentu.

—————————————————————————————–

nah lho.. sekarang ayoo liat sekolah kita.. kategori mana kah sekolah kita saat ini ??, kemaren (selasa, 10/04/07) jam 14:00 bertempat di Lantai 2 Dinas Prov. Sumatera Barat saya menghadiri pemaparan tentang Program Rintisan sekolah Mandiri, terdapat 24 sekolah yang dijadikan rintisan sekolah mandiri untuk Prov. Sumatera Barat, diKab Padang pariaman, yang menjadi Rintisan adalah SMA N 1 Lubuk Alung dan SMA N 1 Nan Sabaris.

dalam pemaparan tersebut banyak hal yang saya ketahui, yaa seperti diartikel diatas

lah.. ntar saya tambahin lagi deh.. mau ngajaar nich, bye

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s