FavICON (bikin Web Mu nyentrik)

Favicon adalah gambar icon kecil yang berada disebelah url halaman sebuah web pada sebuah browser. Nah, sekarang kita juga bisa membuat favicon spesial blog kita. Caranya mudah.

Tentukan gambar favicon kamu. Terserah apapun formatnya (JPG, GIF, PNG,…) Bagusnya persegi.
Lalu buka halaman ini http://www.html-kit.com/favicon/ untuk meng-generate faviconmu.
Dan sekarang generate gambarmu itu. Setelah jadi, download. Di sana ada dua buah, ada yang diam (statis) dan animasi (dinamis). Terserah kamu untuk memilih yang mana saja.
Upload gambar favicon pilihanmu itu. Biasanya upload pada fasilitas blog masing-masing.

Setelah tahu lokasi gambar faviconmu pada server blog. Masukan kode ini di antara tag <head> … </head> pada Main Page html file kamu. Untuk Blogsome, setelah login -> manage -> files

<link rel=”icon” href=”…tulis di sini lokasi (url) gambar favicon kamu yang sudah di upload…” type=”image/x-icon” />

Jadi deh favicon kamu, ciri khas dari blog kamu. Untuk mengujinya bisa buka halaman ini http://www.html-kit.com/favicon/validator/ dan masukan url blog kamu.

Selamat Mencoba. Enjoy!

cuma sayangnya, Word Press ngak bisa Euy..

wakkakaka , kalo ada yang bisa buat di blog WP, boleh lah share Ilmunya..muaakaaciihh.

Konferensi Guru Indonesia (download Makalah)

Konferensi Guru Indonesia adalah konferensi ilmiah yang ditujukan bagi para guru dan Kepala Sekolah tingkat SMP, SMA dan sederajat di seluruh Indonesia. Konferensi Guru Indonesia akan diselenggarakan secara rutin setiap tahun dengan sesi-sesi yang dirancang dalam format seminar maupun workshop yang akan dibagi dalam beberapa kelas paralel.

Konferensi ini diselenggarakan oleh ProVisi Education dan Sampoerna Foundation sebagai bagian dari kepedulian bersama untuk senantiasa memberikan kontribusi yang signifikan bagi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

Latar Belakang

Fakta bahwa daya saing SDM Indonesia hanya menduduki urutan ke-109 dari 174 negara (menurut riset yang dilakukan oleh UNDP pada tahun 2000) telah memberikan sinyal kepada kita bahwa kepentingan untuk meningkatkan kemampuan guru merupakan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kemampuan SDM kita di masa yang akan datang.

Ditambah dengan data dari Depdiknas yang menyatakan bahwa guru yang layak mengajar hanya 64,1 persen (untuk tingkat SMP); dan 67,1 persen (untuk tingkat SMA), potret pendidikan di Indonesia semakin jelas menunjukkan kondisi yang memprihatinkan.

Banyak guru yang masih memiliki paradigma bahwa murid hanya perlu diajarkan materi untuk menghadapi ujian, sehingga proses pembelajaran pun ditekankan pada content dengan metode pengajaran tunggal, yaitu ceramah.

Mengacu pada konsep Lima Visi Pendidikan dari Unesco, yaitu Learning how to think, how to do, how to be, how to learn, how to live together, para guru perlu memperoleh wawasan dan informasi mengenai paradigma pendidikan, berbagai metode pembelajaran, termasuk melakukan inovasi dalam mengajar dan pola pengasuhan murid.

Atas dasar itulah Konferensi Guru Indonesia diselenggarakan dengan mengusung berbagai macam tema yang memberikan kesempatan kepada para guru dan Kepala Sekolah untuk memperluas wawasan mereka dan saling belajar satu sama lain.

Sasaran

Konferensi Guru Indonesia diselenggarakan dengan sasaran sebagai berikut:

Meningkatkan semangat belajar dan berbagi pengetahuan dan pengalaman antara para guru di Indonesia

Sebagai suatu kegiatan untuk memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada guru yang berkualitas

Menggalang berbagai pihak untuk secara bersama-sama memberikan kontribusi demi perbaikan pendidikan nasional

Ruang Lingkup

Adapun lingkup dari Konferensi guru Indonesia ini adalah:

Berskala nasional
Fokus pada pendidikan menengah keatas (SMP, SMA dan sederajat)

Terbuka bagi guru dari sekolah internasional, sekolah swasta, sekolah negeri, maupun sekolah berbasis keagamaan

Terbuka bagi perusahaan, LSM, dan organisasi non-profit lainnya.

Hasil yang Diharapkan:

Meningkatnya wawasan dan pengetahuan para guru dan Kepala Sekolah dalam mencari cara untuk menyediakan pembelajaran yang lebih berkualitas di sekolah masing-masing

Meningkatnya kesadaran berbagai pihak, baik yang berkaitan secara langsung dengan pendidikan maupun yang tidak, untuk memberikan kontribusi terhadap pendidikan di Indonesia

Secara individu, para guru dan Kepala Sekolah termotivasi untuk secara terus-menerus memperbaiki diri agar mampu melaksanakan kegiatan pembelajaran yang lebih efektif terhadap para murid.
download Makalah disini : http://www.guruindonesia.net/downloadmakalah.php

Depdiknas Gelar Unas Dua Kali Dalam Setahun

JAKARTA, (PR). –
Seperti tahun pelajaran 2002/2003 dan 2003/2004, pada tahun pelajaran 2004/2005 Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) memutuskan tetap menyelenggarakan ujian nasional (Unas) bagi para peserta didik SMP/MTs/SMPLB serta SMA/MA/SMALB dan SMK. Mulai tahun 2005, unas akan dilaksanakan dua kali dalam setahun.

Demikian ditegaskan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Prof. Dr. Bambang Sudibyo dalam jumpa pers di kantor Mendiknas Jakarta, Rabu (19/1) petang. “Unas ini berfungsi sebagai salah satu instrumen penentuan kelulusan dan pemberian ijazah bagi peserta didik. Selain itu, juga sebagai upaya pemetaan mutu sekolah dan mutu pendidikan secara nasional dan bahan pertimbangan akreditasi sekolah,” kata Mendiknas.

Mata pelajaran yang diujikan dalam unas, menurut Mendiknas, untuk SMP/Mts/SMPLB adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika. Untuk SMA/MA program IPA yakni bahasa dan sastra Indonesia, Bahasa Inggris, matematika, dan untuk program IPS matematika digantikan ekonomi.

Untuk SMA/MA program bahasa, mata pelajaran yang diujikan meliputi bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa asing lainnya. Sedangkan untuk SMK dan SMALB adalah bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika ditambah kompetensi keahlian.

Masih mengenai materi soal-soal yang akan diujikan, Mendiknas mengatakan, selain soal-soal yang telah disusun oleh Depdiknas, pemerintah juga menggunakan soal dari sekolah serta soal-soal yang berasal dari sekolah setingkat di negara lain. “Kita juga akan menggunakan soal-soal dari negara lain seperti Singapura dan Malaysia sebagai bahan pembanding mutu dan kualitas hasil pendidikan di negeri kita yang diharapkan akan memacu siswa untuk terus-menerus menambah pengetahuan,” katanya.

Mengenai jadwal pelaksanaan Unas yang berlangsung dua kali dalam setahun, kata Mendiknas, untuk tahun ajaran sekarang Unas pertama direncanakan berjalan pada Mei-Juni mendatang, serta yang kedua pada Oktober. Jadwalnya, SMP/MTs/SMPLB periode pertama pada 6-8 Juni 2005 dan 13-15 juni 2005, serta periode kedua pada 3-5 Oktober 2005 dan 10-12 Oktober 2005.

Untuk SMA/MA/SMALB/SMK periode pertama dilaksanakan pada 9-11 Mei dan 16-18 Mei 2005, serta periode kedua pada 3-5 Oktober dan 10-12 Oktober 2005. Sedangkan untuk tahun-tahun berikutnya, pelaksanaan Unas pertama dilakukan pada bulan Februari dan Unas kedua pada bulan Oktober.

Mendiknas juga menegaskan, pelaksanaan Unas 2004-2005 diatur dengan peraturan Mendiknas, termasuk standar kompentensi lulusan (SKL) dan prosedur operasi standar (POS) ujian nasional.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan Unas 2004/2005 telah mengalami beberapa penyempurnaan. Selain pelaksanaan yang dua kali dalam setahun, juga tidak diberlakukan ujian ulangan, tidak ada konversi terhadap nilai akhir Unas, adanya penegasan batasan Unas dan ujian sekolah, serta nilai hasil Unas dan ujian sekolah dicantumkan dalam ijazah.

Sedangkan mengenai kelulusan siswa, ditetapkan sekolah/madrasah penyelenggara. Ambang (batas) kelulusan nilainya adalah 4,25, dan hasil Unas digunakan sebagai alat seleksi untuk masuk ke jenjang pendidikan berikutnya. “Pemerintah berkomitmen untuk secara bertahap menaikkan nilai kelulusan siswa dalam ujian nasional maupun ujian sekolah. Kalau pada tahun lalu angka kelulusan adalah 4,01 maka pada tahun 2005 ditingkatkan menjadi 4,25,” katanya.

Apa yang diujikan di Unas, lanjut Mendiknas, nantinya tidak diujikan lagi ketika hendak masuk pendidikan selanjutnya. Seperti dari SMA hendak mengikuti SPMB. “Biaya penyelenggaraan Unas yang mencakup komponen biaya di tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah penyelenggara, menjadi tanggung jawab pemerintah,” ujar Mendiknas.

Sandaran yuridis

Lebih jauh Mendiknas menyatakan, pelaksanaan ujian nasional bagi peserta didik bertujuan mengukur dan menilai kompetensi peserta didik (lulusan) di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pencapaian standar nasional pendidikan. Sedangkan mengenai alasan dua kali setahun, dilakukan agar peserta didik dapat meraih nilai terbaik dengan cara memilih waktu ujian yang paling siap di antara dua kali kesempatan tersebut.

Dikatakan, penyelenggaraan Unas nanti didasarkan landasan yuridis, teoretis, dan empiris. Landasan yuridis berpatokan pada peraturan perundangan yang menjadi dasar hukum pemerintah dalam melaksanakan Unas itu sendiri. Seperti Undang-Undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang di dalamnya memuat enam pasal yang terkait.

Selain itu, sebagai landasan teoretis Unas dilaksanakan untuk mengukur keberhasilan belajar peserta didik, tentunya perlu diselenggarakan evaluasi sumatif (summative evaluation) pada setiap akhir tingkat pendidikan. “Evaluasi sumatif ini dapat berbentuk evaluasi hasil belajar maupun ujian (examination),” jelas Mendiknas.(A-90)**

=======

bERITA : pIKIRAN rAKYAT

Kategorisasi Jalur Pendidikan, Hanya untuk Pemetaan

Pengklasifikasian sekolah/madrasah ke dalam kategori standar dan mandiri lebih diarahkan untuk kepentingan pemetaan. Langkah ini sekaligus sebagai upaya untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan dan penentuan prioritas pemerintah dalam mengalokasikan sumber daya yang dibutuhkan guna mencapai kualitas pendidikan sesuai standar nasional menjadi mandiri.

Demikian penjelasan resmi Departemen Pendidikan Nasional yang disampaikan oleh Suwarsih Madya selaku Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri dan Hubungan Masyarakat di Jakarta. Penjelasan tersebut merupakan tanggapan atas pemberitaan Kompas (25/5) bahwa kategorisasi jalur pendidikan jadi alat pemerintah untuk melepaskan tanggung jawab.

Berita tersebut bersumber dari pendapat Direktur Eksekutif Institute for Education Reform Utomo Dananjaya. Utomo menilai, kategorisasi formal standar dan formal mandiri tidak realistis untuk meningkatkan mutu pendidikan karena sekolah mandiri hanya menyangkut segelintir orang dan sekolah-sekolah istimewa.

Tak terkait pembiayaan

Suwarsih menegaskan tidak benar bahwa pemerintah melepas tanggung jawab dalam pembangunan pendidikan nasional. Substansi Pasal 11 Ayat (2 dan 3) PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang menjadi dasar pengklasifikasian tersebut, disebutkan tidak terkait dengan pembiayaan pendidikan.

“Pemerintah membagi pendidikan dalam kategori mandiri dan standar bertujuan untuk mendorong satuan pendidikan yang hampir atau telah mencapai standar nasional agar lebih meningkatkan kualitas,” kata Suwarsih merujuk penjelasan Pasal 11 (Ayat 2 dan 3).

Apakah kemudian sekolah yang sudah mandiri tak lagi mendapatkan subsidi? Suwarsih menjawab, “Sekolah mandiri diberikan subsidi secara proporsional. Dengan demikian, dana yang tersedia bisa dialokasikan secara memadai ke sekolah standar.”

Di sisi lain, Suwarsih mengakui, agar bisa memberikan layanan pendidikan yang makin baik, sekolah mandiri dituntut kreativitasnya mencari dana. Orang yang berkelebihan didorong membiayai pendidikan. Hanya saja, beban orang miskin di sekolah bersangkutan jangan sampai makin berat.

“Di negara mana pun, untuk mendapatkan pelayanan publik di atas standar tidak mesti negara yang menanggung tambahan biayanya. Dalam konteks pendidikan, sekolah diberi kesempatan mencari sponsor, terlebih dalam era badan hukum pendidikan kelak,” paparnya.

Berdampak ke biaya

Unifah Rosyidi, dosen manajemen pendidikan Universitas Negeri Jakarta, berpendapat bahwa prinsip dan konsekuensi dari pengategorisasian jalur pendidikan tak akan bisa lepas dari pembiayaan, kendati itu dibungkus dengan istilah pemetaan. Tentang peluang sekolah mencari dana, Unifah mendesak pemerintah untuk mengonkretkan rambu-rambunya. Kenyataan menunjukkan, sekolah cenderung mencari dana dengan jalan pintas, yakni memungut biaya dari orangtua siswa secara pukul rata.

“Apa sekolah harus punya mal, toko, pabrik, atau sarana yang bisa dikomersialkan? Kalau ini tidak diperjelas, maka sekolah terkontaminasi kepentingan kapitalis. Anak orang miskin terpinggirkan secara psikologis,” paparnya.

Jika hal itu tak dipertegas, kata dia, maka sekolah tidak lagi sebagai perekat bangsa, tetapi menjadi perekat sosial kalangan tertentu.

—————————————————————————————–

nah lho.. sekarang ayoo liat sekolah kita.. kategori mana kah sekolah kita saat ini ??, kemaren (selasa, 10/04/07) jam 14:00 bertempat di Lantai 2 Dinas Prov. Sumatera Barat saya menghadiri pemaparan tentang Program Rintisan sekolah Mandiri, terdapat 24 sekolah yang dijadikan rintisan sekolah mandiri untuk Prov. Sumatera Barat, diKab Padang pariaman, yang menjadi Rintisan adalah SMA N 1 Lubuk Alung dan SMA N 1 Nan Sabaris.

dalam pemaparan tersebut banyak hal yang saya ketahui, yaa seperti diartikel diatas

lah.. ntar saya tambahin lagi deh.. mau ngajaar nich, bye

Bantuan dana utk KKG & MGMP

Saat akan berlangsung dengar pendapat dengan anggota Komisi X DPR RI di LPMP DKI Jakarta Senin 2 April 2007, saya mendapat informasi dari Ibu Sri. S, seorang Widya Iswara disana mengenai penyaluran dana bantuan langsung (Block Grant) REVITALISASI KKG & MGMP dari Dirjen Tendik th. 2007.

Peruntukan dana diantaranya; untuk pengembangan kurikulum/silabus dan bahan ajar, pengembangan metode dan media pembelajaran, pembuatan alat peraga, penelitian tindakan kelas, pengembangan profesi/karier, penulisan karya tulis ilmiah.

Sasaran untuk DKI Jakarta: 44 KKG SD, 24 KKG PENJAS SD, 30 KKG AGAMA SD, 36 MGMP SMP, 18 MGMP SMA, 25 MGMP SMK, dan 2 GUGUS SLB, dengan besaran block grant Rp. 20 juta untuk SMK, 15 juta SMA, lainnya sepuluh juta.

Mengenai syarat-syarat, mekanisme dan lainnya, untuk Jakarta silahkan hubungi Rahma; 08161668903, Dian; 0818929510, Dyah; 081380440210, daerah lain silahkan ke LPMP terdekat atau kontak Dirjen Tendik Depdiknas RI.

PROPOSAL DAN KELENGKAPANNYA HARUS MASUK SEBELUM 20 APRIL 2007, berminat??? … silahkan, selamat bersaing

disadur dari Blog nya mas Dedi Dwitagama http://dwitagama.blogspot.com/

Gaul untuk kreatifitas dan pendidikan

Guru Gaul

PADA Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 November lalu, banyak aksi demo yang dilakukan para guru, yang intinya sebagian besar adalah memperjuangkan kesejahteraan para guru. Tapi, ada sisi lain yang patut dicermati pula, yaitu hubungan antara guru dengan para anak didiknya.

Dulu, beberapa puluh tahun yang lalu, sosok seorang guru di mata anak didiknya merupakan sosok yang amat dihormati, disegani, bahkan ditakuti. Dalam bahasa Sunda, istilah guru kemudian diartikan sebagai seseorang yang patut “digugu” dan “ditiru”. Artinya, sosok guru adalah panutan, wajib dituruti dan sangat baik untuk ditiru perilakunya.

Tapi belakangan, banyak oknum guru yang mencoreng mukanya sendiri. Ada guru yang sering menggoda muridnya, bahkan ada yang memerkosa muridnya, ada guru yang korupsi, atau perilaku-perilaku lain yang tidak lagi patut untuk ditiru. Anak didik tidak lagi menempatkan guru sebagai seorang panutan. Hal ini banyak digambarkan dalam sinetron-sinetron kita. Bahkan digambarkan anak didik yang bertingkah kurang ajar terhadap gurunya, astaghfirullahaladziim.

Namun tampaknya, apa yang digambarkan dalam sinetron-sinetron itu terlalu kebablasan. Kalau kita lihat praktik belajar mengajar di kelas-kelas, khususnya di Kota Bandung, sebenarnya hubungan antara guru dan anak didiknya belum terlalu separah itu. Masih banyak murid yang menghormati gurunya, terutama di kalangan anak-anak sekolah dasar.

Memang rasa hormat yang diperlihatkan anak-anak sekarang berbeda dengan apa yang dilakukan anak-anak zaman dulu. Justru sosok guru sekarang di mata anak didiknya, bisa dijadikan sebagai seorang teman, seorang sahabat. Anak didik di sekolah dasar selalu mencium tangan gurunya bila berpapasan, ada pula beberapa anak yang melakukan toast tangan dengan gurunya.

Pendekatan yang dilakukan seorang guru terhadap anak didiknya pun sekarang ini agak berbeda. Kalau dulu guru memasang wajah garang bila tidak menyukai perbuatan muridnya, namun sekarang banyak guru yang justru menempatkan diri sebagai sahabat apabila muridnya melakukan kesalahan. Karena itu, anak didik pun banyak yang “curhat” kepada gurunya, terutama guru wanita. Tidak bisa “curhat” kepada orang tuanya di rumah, karena sibuk di luar rumah, maka akhirnya seorang anak “curhat” kepada gurunya.

Bahkan sekarang muncul istilah guru gaul, sehubungan banyaknya guru yang tidak lagi “menyeramkan”, baik penampilannya maupun perilakunya terhadap anak didik. Semoga saja perubahan seperti ini bisa memacu anak didik untuk lebih mengembangkan pribadinya, tentunya dengan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap “guru gaul”-nya itu.(milly malia/”PR”)***